Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Tampilkan postingan dengan label Piala Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piala Dunia. Tampilkan semua postingan

Kalahkan Australia 3-0, Uruguay Raih Tiket Terakhir Ke Korea-Jepang 2002

Darah dan air mata akhirnya mewarnai langkah sensasional Uruguay ke Piala Dunia 2002. Perjuangan melelahkan, menegangkan, dan memakan urat syaraf itu akhirnya berakhir. Juara dunia 1930 dan 1950 ini memenuhi janjinya untuk lolos ke Korea-Jepang.

Kalahkan Australia 3-0, Uruguay Raih Tiket Terakhir Ke Korea-Jepang 2002
Tak syak lagi, hari Minggu (25/ 11) waktu setempat adalah hari terbaik di tahun ini bagi rakyat Uruguay. Dari presiden hingga rakyat jelata pasti merasa bergembira. Baru pada perhelatan terakhir, partai ke-778 babak kualifikasi Piala Dunia 2002, mereka bisa bernapas lega.

Janji Alvaro Recoba, yang terlihat sangat meremehkan Australia, rupanya benar-benar dipenuhinya. Dia adalah bintang lapangan, pahlawan nasional Uruguay saat itu selain substitute Richard Morales dan bomber klub Malaga (Spanyol), Dario Silva. Dua assist pemain FC Internazionale Milano ini telah merontokkan ketakutan seluruh negeri akibat kekalahan 0-1 pada laga pertama di Melbourne. "Kami akan mengalahkan Australia di Montevideo," ucap Recoba usai kekalahan pertemuan pertama yang kini terbukti.

Baru 14 menit. Centenario terasa pecah oleh pekikan sekitar 68.000 penonton ketika umpan Gianni Guigou, bek yang bermain di AS Roma, dimanfaatkan Dario Silva. Meski sudah unggul, terlihat banyak ketegangan yang melanda pasukan Victor Pua ini. Beberapa kesalahan tak perlu nyaris dimanfaatkan para pemain Aussie.

Akibat gencarnya tekanan lawan lewat bola-bola atas menuju Mark Viduka, kepala bek Uruguay Mario Regueiro sampai mengocorkan darah akibat benturan dengan bomber bertubuh besar itu. Duel memang berlangsung keras sehingga wasit Ali Bujsaim (UEA) mengeluarkan tujuh kartu kuning, 6 di antaranya buat tuan rumah yang meladeni permainan fisik anak-anak Australia.

Mengingat skor 1-0 belum aman, di babak kedua titah Pua untuk memaksimalkan serangan sayap membuahkan hasil. Keputusannya memasukan Morales, dengan menarik Federico Magallanes, ternyata tepat. Hebatnya, dua gol Morales di menit ke-70 dan 90 adalah berkat penetrasi yang dilakukan Recoba.

Bagi Australia, ini merupakan kegagalan keempat, tiga diantaranya beruntun setelah tahun 1997 (1-1 dan 2-2 vs Iran), 1994 (0-0 dan 1-1 vs Argentina), serta 1986 (0-0 dan 1-1 vs Skotlandia). Pelecehan yang diderita para pemain Socceroos saat tiba pertama kali di bandara serta diremehkan Recoba cs. seolah semakin menyakitkan dengan hasil ini.


Menit Per Menit

00' Kick-off oleh Kewell-Viduka
01' Australia langsung menyerang, tendangan Viduka melebar
03' Sepak pojok Uruguay, tendangan Recoba dihalau Vidmar
05' Umpan sundulan Moore ke Kewell, tapi diamankan Rodriguez
06' Umpan silang Dario Silva dari kiri, diamankan Murphy
08' Tendangan Recoba dari jarak 30 meter: melebar
11' Umpan jarak jauh Santos tak bisa digapai Magallanes
14' Umpan menusuk Guigous ke Dario Silva di kiri: dengan sekali liukkan, ia menembak menyilang ke gawang Schwarzer: Gol! 1-0
16' Recoba dilanggar di sayap kiri; tendangan bebasnya dari jarak 40 meter melayang di atas gawang
22' Tendangan bebas Kewell: bola melayang tipis di atas mistar
24' Aksi individu Regueiro: bola melewatl kiper, namun Murphy menyelamatkan di bawah gawang
31' Kartu kuning bagi Muscat, karena melanggar Regueiro
33' Tendangan bebas, umpannya ke Dario Silva diantisipasi Murphy
35' Clash antara Kewell dan Montero. Tendangan bebas untuk Australia: sepakan Kewell membentur mistar
37' Magallanes putar posisi dengan Dario Silva: dari sayap kiri ke kanan
38' Kartu kuning buat Regueiro akibat protes
41' Muscat melanggar Regueiro: wasit tidak meniup peluit
42' Dan kin, Recoba melaju melewati Moore: umpannya ke Dario Silva di depan gawang diamankan Vidmar
43' Kepala Regueiro mengeluarkan darah dan digotong ke pinggir lapangan
44' Sundulan Kewell dimanfaatkan Skoko, namun terkena badan Montero
46' Sundulan Moore meleset, bola ditendang Magallanes lalu diblok Schwarzer
47' Tendangan spekulasi Kewell ditangkap Carini tanpa kesulitan
46' Wasit Ali Bujsaim meniup panjang peluitnya, akhir babak pertama
49' Muscat menyikut Dario Silva: wasit tak melihat
50' Murphy mencuri bola dari Magallanes, umpannya ke Viduka dihentikan Montero
57' Tendangan jarak jauh Viduka diblok Carini
64' Cross Skoko disambut Viduka oieh sundulan, bola tipis di atas mistar
65' Morales masuk menggantikan Magallanes
70' Tendangan bebas Recoba disambut sundulan Morales: Gol! 2-0
73' Agostino masuk: Muscat keluar
74' Sorondo masuk: Regueiro keluar
79' Tendangan penjuru Emerton disundul Kewell, ditip Carini
82' Kartu kuning untuk Dario Silva
83' Aloisi masuk: Murphy keluar
87' Peluang Kewell, umpan dari Agostino diamankan Carini
88' Umpan Kewell; rekannya tak ada yang menyambut
90' Penetrasi Recoba ke kotak penalti, disambut sontekan Morales. Gol! 3-0
92' Pemain-pemain Uruguay dilanda kegembiraan. Morales terlihat menangis
94' Permainan masih berjalan, namun kedua tim tampaknya sudah menurunkan tempo
96' Wasit Ali Bujsaim meniup peluit akhir. Uruguay lolos ke Korea-Jepang 2002!

Data Fakta


URUGUAY vs AUSTRALIA 3-0

Waktu: Minggu 25 November 2001
Tempat: Estadio Centenario, Montevideo
Penonton: 68.000
Wasit: Ali Bujsaim (UEA)
Gol: Dario Silva 14, Richard Morales 70, 90
Kartu Kuning: Mario Regueiro 39, Pablo Garcia 67, Richard Morales 71. Gonzalo Santos 81, Dario Silva 83, Fabian Carini 90; Kevin Muscat 32.
Uruguay (3-4-1-2): 1-Fabian Carini; 2-Washington Tais, 3-Alejandro Lembo, 4-Paolo Montero; 6-Dario Rodriguez, 7-Gianni Guigou, S-Pablo Garcia, 9-Dario Silva (14-Gonzalo Sorondo 78); 11-Federico Magallanes (18-Richard Morales 65); 15-Mario Regueiro (8-Gonzalo Santos 75), 20-Alvaro Recoba. Pelatih: Victor Pua.
Australia (4-4-2): 1-Mark Schwarzer; 2-Kevin Muscat (10-Paul Agostino 73), 3-Craig Moore, 14-Shaun Murphy (21-John Aloisi 87), 5-Tony Vidmar; 7-Brett Emerton, 4-Paul Okon, 8-Josip Skoko, 11-Stan Lazaridis; 9-Mark Viduka, 10-Harry Kewel. Pelatih: Frank Farina.

(foto: efectofutbol.net/reuters)

Share:

Piala Dunia 1994: Dominasi Maradona

Berakhirnya Piala Dunia 1994 menggoreskan beberapa catatan istimewa. Satu yang paling menonjol adalah tumbangnya rekor penonton terbanyak selama kejuaraan, dengan kenaikan sangat fantastis. Meski cuma sekali tampil, namun nama Diego Maradona tercatat sebagai salah satu pesepak bola yang sering tampil di Piala Dunia. Hal yang sama ditorehkan Lothar Matthaeus. Apa saja rekor yang pecah setelah USA'94? Simak data-data berikut.

Piala Dunia 1994: Dominasi Maradona
Dewa Mexico '86, Diego Maradona, tak bisa dibendung Lothar Matthaeus.


GOL TERBANYAK 1
14 Gol: Gerd Mueller (Jerman Barat) 1970, 1974
13 Gol: Just Fontaine (Francis) 1958
12 Gol: Pele (Brasil) 1958, 1962, 1966, 1970
11 Gol: Sandor Kocsis (Hongaria) 1954
10 Gol: Helmut Rahn (Jerman) 1954, 1958; Teofilo Cubillas (Peru) 1970, 1978; Grzegorz Lato (Polandia) 1974, 1978, 1982; Gary Lineker (Inggris) 1986, 1990
9 Gol: Ademir Marques (Brasil) 1950; Juan Schiaffino (Uruguay) 1950, 1954; Vava (Brasil) 1958, 1962; Uwe Seeler (Jerman) 1958, 1962, 1966, 1970; Eusebio Ferreira (Portugal) 1966; Jairzinho (Brasil) 1970, 1974; Paolo Rossi (Italia) 1978, 1982, 1986; Karl-Heinz Rummenigge (Jerman) 1978, 1982, 1986
8 Gol: Guillermo Stabile (Argentina) 1930; Leonidas (Brasil) 1934, 1938; Diego Maradona (Argentina) 1982, 1986, 1990, 1994; Rudi Voeller (Jerman) 1986, 1990; Gyula Zsengegeller (Hongaria) 1938; Hans Schaefer (Jerman) 1954, 1958; Lajos Tichy (Hongaria) 1958, 1962; Johny Rep (Belanda) 1974, 1978; Andrzej Szarmach (Polandia) 1974, 1978, 1982; Antonio Careca (Brasil) 1986, 1990; Roberto Baggio (Italia) 1990, 1994; Oldrich Nejedly (Cekoslowakia) 1934, 1938

GOL TERBANYAK 2
12 Gol: Austria vs Swiss 7-5 (Swiss 1954)
11 Gol: Hongaria vs El Salvador 10-1 (Spanyol 1982); Hongaria vs Jerman 8-3 (Swiss 1954); Brasil vs Polandia 6-5 (Prancis 1938)
10 Gol: Prancis vs Paraguay 7-3 (Swedia 1958)
9 Gol: Argentina vs Meksiko 6-3 (Uruguay 1930); Hongaria vs Korsel 9-0 (Swiss 1954); Jerman vs Turki 7-2 (Swiss 1954); Prancis vs Jerman 6-3 (Swedia 1958); Yugoslavia vs Zaire 9-0 (Jerman 1974)

GOL TERBANYAK 3
27 Gol: Hongaria (1954)
23 Gol: Prancis (1958)
22 Gol: Brasil (1950)
19 Gol: Brasil (1970)
18 Gol: Argentina (1930)
17 Gol: Portugal (1966)
16 Gol: Prancis (1982)
15 Gol: Hongaria (1938); Argentina (1978); Belanda (1978)

GOL TERBANYAK 4
5 Gol: Oleg Salenko (Rusia vs Kamerun 6-1, 1994)
4 Gol: Emilio Butragueno (Spanyol vs Denmark 5-1, 1986); Eusebio Ferreira (Portugal vs Korea Utara 5-3, 1966); Just Fontaine (Prancis vs Jerman 6-3, 1958); Marques Ademir (Brasil vs Swedia 7-1, 1950); Juan Schiaffino (Uruguay vs Bolivia 8-0, 1950); Leonidas (Brasil vs Polandia 6-5, 1938); Gustav Wetterstrom (Swedia vs Kuba 8-0, 1938); Ernst Wilimowski (Polandia vs Brasil 5-6, 1938)

SKOR TERBESAR
10 Gol: Hongaria vs El Salvador 10-1 (Spanyol 1982)
9 Gol: Yugoslavia vs Zaire 9-0 (Jerman 1974); Hongaria vs Korsel 9-0 (Swiss 1954)
8 Gol: Swedia vs Kuba 8-0 (Prancis 1938); Uruguay vs Bolivia 8-0 (Brasil 1950); Hongaria vs Jerman 8-3 (Swiss 1954)
7 Gol: Italia vs AS 7-1 (Italia 1934); Brasil vs Swedia 7-1 (Brasil 1950); Jerman vs Turki -2 (Swiss 1954); Turki vs Korsel 7-0 (Swiss 1954); Uruguay vs Skotlandia 7-0 (Swiss 1954); Austria vs Swiss 7-5 (Swiss 1954); Prancis vs Paraguay 7-3 (Swedia 1958).

GOL PERTAMA
1930: Lucien Laurent (Prancis) vs Meksiko 4-1
1934: Ernesto Belis (Argentina) vs Swedia 2-3
1938: Josef Gauchel (Jerman) vs Swiss 1-1
1950: Marques Ademir (Brasil) vs Meksiko 4-0
1954: Milos Milutinovic (Yugoslavia) vs Prancis 1-0
1958: Omar Corbatta (Argentina) vs Irlandla Utara 3-1
1962: Hector Facundo (Argentina) vs Bulgaria 1-0
1966: Pele (Brasil) vs Bulgaria 2-0
1970: Dirko Dermendzhiev (Bulgaria) vs Peru 2-3
1974: Paul Breitner (Jerman) vs Chile 1-0
1978: Bernard Lacombe (Prancis) vs Italia 1-2
1982: Erwin Vandenbergh (Belgla) vs Argentina 1-0
1986: Alessandro Altobelli (Italia) vs Bulgaria 1-1
1990: Francois Omam-Biyik (Kamerun) vs Argentina 1-0
1994: Juergen Klinsmann (Jerman) vs Bolivia 1-0

TAMPIL TERBANYAK 1
21 Kali: Diego Maradona (Argentina); Lothar Matthaeus, Uwe Seeler (Jerman); Wladyslaw Zmuda (Polandia)
19 Kali: Wolfgang Overath, Karl-Heinz Rummenigge, Berti Vogts (Jerman)
18 Kali: Franz Beckenbauer (Jerman), Sepp Maier (Jerman); Aritonio Cabrini, Gaetano Scirea (Italia); Mario Kempes (Argentina)

TAMPIL TERBANYAK 2
5 Kali: Antonio Carbajal (Meksiko: 1950, 1954, 1958, 1962, 1966)
4 Kali: Diego Maradona (Argentina: 1982, 1986, 1990, 1994); Pele (Brasil: 1958, 1962, 1966, 1970); Gianni Rivera: (Italia: 1962, 1966, 1970, 1974); Pedro Rocha: (Uruguay: 1962 1966 1970, 1974); Djalma Santos (Brasil: 1954, 1958, 1962, 1966); Karl-Heinz Schnellinger, Uwe Seeler (Jerman: 1958, 1962, 1966, 1970); Wladyslaw Zmuda (Polandia: 1974, 1978, 1982, 1986)

PENONTON TERBANYAK
AS 1994: 3.678.112
Italia 1990: 2.527.348
Meksiko 1986: 2.441.731
Spanyol 1982: 1.856.277
Argentina 1978: 1.610.215
Jerman 1974: 1.774.022
Meksiko 1970: 1.673.975
Inggris 1966: 1.614.677
Chile 1962: 776.000
Swedia 1958: 868.000
Swiss 1954: 943.000
Brasil 1950: 1.337.000
Prancis 1938: 483.000
Italia 1934: 395.000
Uruguay 1930: 434.000

Share:

Piala Dunia 1994: Eh Tahukah Anda? (6-Habis)

Sejak pertama kali diadakan tahun 1930, ternyata sudah 59 negara yang pernah ikut kejuaraan sepak bola Piala Dunia. Jumlah ini masih sangat jauh dari setengah jumlah anggota FIFA yang sekarang mencapai 191 negara. Catatan ini juga mencakup Rusia yang dianggap sebagai Uni Soviet, atau Jerman Timur yang digabungkan ke dalam Jerman. Sayangnya Hindia-Belanda, yang pernah ikut Piala Dunia 1938 dikategorikan ke dalam Belanda, bukan Indonesia.

Piala Dunia 1994: Eh Tahukah Anda?
Tim nasional 'Indonesia' di Piala Dunia 1938. Asia pertama.

DIPLOMASI INDONESIA
Perlukah Indonesia melakukan diplomasi ke FIFA agar diakui mengingat ada tujuh pemain Dutch-Indies berdarah asli Indonesia? Alasannya sudah pasti karena waktu itu nama Indonesia belum ada, dan negeri nusantara masih dijajah Belanda serta belum punya pemerintahan sendiri alias merdeka.

Selain itu catatan lainnya termasuk negara-negara yang kini sudah tiada, seperti Cekoslowakia, yang sekarang terpecah menjadi Republik Ceko dan Slowakia. Atau Yugoslavia yang kini terpecah menjadi lima negara: Serbia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro dan Macedonia. Sedang tiga negara debutan di Piala Dunia 1994 adalah Nigeria, Arab Saudi, dan Yunani.

FAIR PLAY
Belgia boleh kecewa, karena Fair Play Award tidak jadi jatuh ke tangan mereka. Padahal merekalah yang semula paling dijagokan untuk meraih penghargaan itu berkat paling minim mendapat hukuman dari wasit, baik kartu kuning apalagi kartu merah. Bahkan Sekjen FIFA sendiri yang menyatakannya. Sepp Blatter mengumumkan bahwa mereka memperoleh nilai tertinggi di antara 24 negara peserta.

Lalu siapa yang akhirnya mendapatkan gelar tim terbersih itu? Ternyata Brasil. Berdasarkan jumlah kartu kuning dan kartu merah yang diterima, juga tingkah-laku seluruh anggota tim dan para pendukungnya, mereka dipandang paling berhak atas predikat tersebut. Berada di tempat kedua, Belanda dan ketiga, Swedia. Jadi pada akhirnya nama Belgia bahkan sama sekali tidak disebut-sebut. Kasihan.

TIM TERBAIK
Sepak terjang Brasil ternyata tidak berhenti sampai di situ. Setelah merebut Piala Dunia dan Fair Play Award, mereka merampas pula gelar tim berpenampilan terbaik. Dalam hal ini mereka menyingkirkan sensasi yang dibuat tim dari Afrika, Nigeria, serta lawan mereka di final, Italia. Brasil memang layak meraih predikat itu. Permainan cantik yang mereka tampilkan mampu memikat jutaan penonton di seluruh dunia. Selain itu, mereka juga menjadi satu-satunya tim yang tidak terkalahkan sejak babak pertama.

BOLA EMAS
Brasil lagi. Striker utama tim Samba, Romario de Souza Faria terpilih sebagai pemain terbaik Piala Dunia 1994. Tidak ada yang membantah meskipun dia bukan pencetak gol terbanyak seperti halnya Mario Kempes (1978), Paolo Rossi (1982) atau Salvatore Schillaci (1990).

Seperti Diego Maradona di tahun 1986, Romario dianggap berperan sangat besar dalam membawa timnya tampil sebagai juara. Dengan gelar ini Romario akan menerima Bola Emas dari Adidas dalam suatu acara khusus di Lisabon, Portugal, Januari 1995. Sedangkan penerima bola perak dan perunggu masing-masing akan diberikan kepada Roberto Baggio (Italia) dan Hristo Stoichkov (Bulgaria).

SEPATU EMAS
Jika mencetak satu gol dinilai tiga, dan membantu terciptanya satu gol (assist) dinilai satu, maka nilai Oleg Salenko (Rusia) dan Hristo Stoichkov (Bulgaria) sama-sama yang tertinggi dengan poin 19. Kedua penyerang ini masing-masing berhasil membukukan 6 gol dan satu assist. Di bawah mereka terdapat nama Romario Faria.

Ujung tombak Brasil ini menjebolkan gawang lawan 5 kali dan bikin 3 assist untuk rekan-rekannya sehingga mendapat nilai 18. Salenko dan Stoichkov dengan sendirinya menjadi pencetak gol terbanyak dan meraih sepatu emas.

Torehan gol mereka sekaligus menambah panjang daftar top scorer dengan 6 gol yang sebelumnya telah dibuat Mario Kempes (1978), Paolo Rossi (1982), Gary Lineker (1986) dan Salvatore Schillaci (1990). Dengan demikian, sejak Piala Dunia 1978, jumlah gol yang diciptakan seorang pencetak gol terbanyak tidak pernah beranjak dari angka 6.

KIPER TERBAIK
Mungkin tidak ada yang menyangka kalau Lev Yashin Award akhirnya digaet penjaga gawang kawakan Belgia, Michel Preud'Homme. Tetapi itulah kenyataannya. Preud'homme, 35, dinyatakan sebagai kiper terbaik dan berhak atas penghargaan itu. Pemain asal klub Mechelen ini sekaligus masuk dalam tim terbaik dunia versi FIFA. Cadangannya adalah Thomas Ravelli (Swedia).

Padahal sementara pengamat menllai Ravelli yang menjadi pahlawan ketika Swedia menyingkirkan Rumania lewat drama penalti lebih baik dari Preud'homme. Bahkan Borislav Mihailov (Bulgaria) dan Claudio Taffarel (Brasil) sebelumnya jauh lebih gencar disebut-sebut akan menduduki posisi puncak. Kalau Taffarel, barangkali FIFA tidak enak. Masak Brasil lagi?

LEBIH EFEKTIF
Ya, itulah kesimpulan yang diperoleh FIFA setelah memperhatikan data yang dihimpun dari 44 laga putaran penyisihan grup. Waktu efektif dari 90 menit pertandingan rata-rata mencapai 61,37 menit atau sekitar 6 menit lebih banyak dari Piala Dunia 1990.

UCAPAN DARI CLINTON
Salah satu ucapan selamat paling berkesan yang diterima Brasil setelah menjuarai Piala Dunia 1994 datang dari Presiden AS Bill Clinton. Orang nomor satu di Amerika Serikat itu langsung menelpon pelatih Carlos Alberto Parreira di tengah-tengah penerbangan dinasnya dari Washington ke Miami.

"Kalian memenangkan sebuah kejuaraan yang menakjubkan dengan perjuangan keras," demikian ujar Clinton seperti ditirukan juru bicaranya, Dee Dee Myers. Sang jubir menambahkan, Clinton menyempatkan diri untuk menonton pertandingan yang menegangkan itu lewat siaran langsung televisi di Gedung Putih.

BAIK DAN BURUK
Kolombia tragis. Rumania dan Swiss berhasil mencapai prestasi terbaik. Yunani gagal dalam debutnya. Jerman tumbang karena pemainnya ketuaan. Norwegia sial. Saudi Arabia sebelumnya tidak pernah bermimpi akan menang atas Belgia dan Maroko, namun justru mengalahkan dua saingainnya dan menjadi tim Asia pertama yang lolos ke babak kedua setelah Korea Utara di tahun 1966.

Bulgaria tidak saja meraih kemenangan pertama di Piala Dunia, tetapi juga melaju ke semifinal dengan menyingkirkan sang juara bertahan. Nigeria adalah sensasi baru dari Afrika. Maroko dan Kamerun tidak lagi menakjubkan. Spanyol kemball tidak bisa melewati perempatfinal. Argentina merana setelah ditinggalkan Diego Maradona. Swedia balk sekali. AS cukup mengesankan karena strategi apik pelatihnya, Bora Milutinovic.

Rusia agak terhibur dengan memiliki Oleg Salenko. Irlandia kalah, namun tidak memalukan dan Jack Charlton tetap menjadi orang Inggris yang paling dicintai di negeri itu. Belgia dikalahkan keputusan wasit. Meksiko lagi-lagi terpuruk karena adu penalti. Bolivia tidak sehebat yang diduga seperti ketika sempat menggulingkan Brasil di penyisihan Piala Dunia 1994.

Italia banyak diselamatkan Roberto Baggio tapi juga dibenamkan peluangnya setelah drama adu penalti di final. Meski demikian Italia secara keseluruhan dianggap tidak buruk karena dipercaya dilingkupi faktor nasib sial. Dari semua fenomena itu, maka pantaslah jika Brasil yang layak menjadi juara.

TETRA BRASIL
Kata 'tetra' yang berarti empat sekarang ini sedang menjadi mantra sedap bagi setiap orang Brasil. Sejak mereka tampil sebagai juara dunia ketiga kali pada tahun 1970, julukan itu baru muncul 24 tahun kemudian. Maka begitu impian mereka tercapai hari Senin lalu, di seluruh Lembah Amazon bergema teriakan, "Brasil Tetracampeao!" Artinya: "Brasil juara dunia empat kali!" "Sebagai orang Brasil, kami akan memuja kata tetra seperti memuja dewa," ujar Joao Bezerra, seorang penjual bir, dengan bersemangat. Bukan main.

(foto: lattitudes)





Share:

Piala Dunia 1994: Pertama Kali 0-0 Dan Adu Penalti

Setelah menang adu penalti 3-2 atas Italia, akhirnya Brasil menyabet rekor baru: negara pertama yang empat kali merebut titel Piala Dunia, empat kali juara dunia. Tiga gelar pertama mereka terjadi di Swedia 1958, Chile 1962, dan Meksiko 1970, di mana ketika itu titel yang diburu masih bernama Piala Jules Rimet.

Piala Dunia 1994: Pertama Kali 0-0 Dan Adu Penalti
Franco Baresi sukses mematikan Romario Faria di laga normal.

Gelar keempat Brasil kali ini diraih lewat drama yang mendebarkan dan menegangkan, seolah nasib baik tidak berpihak lagi kepada mereka seperti di tiga Piala Dunia terakhir: 1978, 1982, dan 1990. Selama 120 menit permainan, Brasil dan Italia bermain imbang tanpa gol. Skor final yang berakhir imbang 0-0 ini merupakan sejarah baru dalam partai puncak Piala Dunia. 

Pertama kali sebuah final berakhir tanpa gol setelah 90 menit berlalu. Dalam 15 kali sejarah partai final, termasuk yang di Pasadena, Los Angeles, sebelumnya pernah muncul tiga final yang berakhir imbang dalam waktu resmi. Tapi semuanya ada gol.

Skor seri final pertama kali lahir di Roma, ketika tuan rumah Italia dan Cekoslowakia yang bertarung pada laga pamungkas Piala Dunia 1934 bermain seri 1-1 sepanjang 90 menit. Gli Azzurri, yang pertarungannya ditonton langsung diktator Benito Mussolini dengan ancaman hukuman mati bila sampai kalah, kemudian memetik gol kemenangan pada perpanjangan waktu.

Tahun 1966 di Stadion Wembley, London, pertemuan Inggris melawan Jerman dalam final juga berakhir dengan skor imbang 1-1 dalam waktu normal. Setelah perpanjangan waktu, Inggris akhirnya unggul 4-2. Di Buenos Aires, ketika Argentina jumpa Belanda dalam final Piala Dunia 1978, skor laga setelah 90 menit juga imbang 1-1. Barulah dalam perpanjangan waktu, tuan rumah merebut kemenangan 3-1.

Kini final Piala Dunia 1994 tak hanya tanpa gol di 90 menit tapi juga saat perpanjangan waktu dan adu penalti. Dari sepuluh kemungkinan gol dalam adu penalti pun hanya menghasilkan lima gol, alias separuhnya. Sejarah final yang kurang manis, ya?

REKAMAN FINAL

Brasil 3-2 (0-0, 0-0, 0-0) Italia
Waktu: 16 Juli, 02.55 WIB
Tempat: Stadion Rose Bowl, Los Angeles
Penonton: 94.194
Wasit: Sandor Puhl (Hongaria)
Adu Penalti:
1.Baresi (Italia). Gagal. 0-0 | Santos (Brasil). Gagal. 0-0
2.Albertini (Italia). Gol. 1-0 | Romario (Brasil). Gol. 1-1
3.Evani (Italia). Gol. 2-1 | Branco (Brasil). Gol. 2-2
4.Massaro (Italia). Gagal. 2-2 | Dunga (Brasil). Gol. 2-3
5.Baggio (Italia). Gagal. 2-3 | Bebeto (Brasil). Tidak menendang.
Kartu Kuning: Mazinho, Cafu (Brasil); Apolloni, Albertini (Italia)
Pemain Terbaik: Romario Faria (Brasil)
BRASIL: Claudio Taffarel; Jorginho/Cafu (21'), Aldair, Marcio Santos, Branco, Mauro Silva, Dunga, Mazinho, Zinho/Viola (106'), Bebeto, Romario. 
Pelatih: Carlos Alberto Parreira
ITALIA: Gianluca Pagliuca; Roberto Mussi/Luigi Apolloni (35'), Franco Baresi, Paolo Maldini, Antonio Benarrivo, Nicola Bertl, Demetrio Albertini, Dino Baggio/Alberigo Evani (95'), Roberto Donadoni, Roberto Baggio, Daniele Massaro. 
Pelatih: Arrigo Sacchi

PENCETAK GOL TERBANYAK

6 Gol: Oleg Salenko (Rusia); Hristo Stoichkov (Bulgaria).
5 Gol: Juergen Klinsmann (Jerman); Roberto Baggio (Italia); Romario Faria (Brasil); Kennet Andersson (Swedia).
4 Gol: Martin Dahlin (Swedia); Gabriel Batistuta (Argentina); Florin Raducioiu (Rumania).
3 Gol: Bebeto (Brasil); Gheorghe Hagi (Rumania); Jose Caminero (Spanyol); Dennis Bergkamp (Belanda); Tomas Brolin (Swedia).
2 Gol: Juan Andoni Goikotxea (Spanyol); Ilie Dumitrescu (Rumania); Adolfo Valencia (Kolombia); Luis Garcia (Meksiko); Fuad Anwar Amin (Arab Saudi); Claudio Caniggia (Argentina); Hong Myong-bo (Korsel); Daniel Amokachie, Emmanuel Amunike (Nigeria); Rudi Voeller (Jerman); Philippe Albert (Belgia); Wim Jonk (Belanda); Dino Baggio (Italia); Yordan Lechkov (Bulgaria); Georges Bregy (Swiss).
1 Gol: Julio Salinas, Fernando Hierro, Luis Enrique Martinez, Josep Guardiola (Spanyol); Hwang Sun-hong, Soe Jung-won (Korsel); Eric Wynalda, Ernie Stewart (AS); Ray Houghton, John Aldridge (Irlandia); Marc Degryse, Georges Grun (Belgia); Kjetil Rekdal (Norwegia); Roger Ljung, Henrik Larsson, Hakan Mild (Swedia); David Embe, Francois Omam-Biyik, Roger Milla (Kamerun); Rai Oliveira, Claudio Branco, Marcio Santos (Brasil); Gaston Taument, Bryan Roy, Aaron Winter (Belanda); Diego Maradona, Abel Balbo (Argentina); Rashidi Yekini, Finidi George, Samson Siasia (Nigeria); Alberto Garda, Marcelino Bernal (Meksiko); Alain Sutter, Stephane Chapuisat, Adrian Knup (Swiss); Dmitry Radchenko (Rusia); Sami Al-Jabber, Fahd Al-Ghassiyan, Saeed Owairan (Arab Saudi); Mohammed Chaouch, Hassan Nader (Maroko); Daniel Borimirov, Nasko Sirakov, Krassimir Balakov (Bulgaria); Harold Lozano, Herman Gaviria (Kolombia); Erwin Sanchez (Bolivia); Karl-Heinz Riedle, Lothar Matthaeus (Jerman); Daniele Massaro (Italia); Dan Petrescu (Rumania).



(foto: lacuarta)





Share:

Piala Dunia 1994: Duka Baresi, Massaro, Baggio...

Apa boleh buat. Sesuatu yang tidak diharapkan oleh siapa pun harus terjadi. Ya, inilah kali pertama dalam sejarah, final Piala Dunia harus ditentukan oleh adu penalti. Memang kurang sedap, tapi pertandingan tak bisa diperpanjang lagi, dan kejuaraan harus ada pemenangnya. Dan inilah saat-saat dramatis itu, yang membuat seluruh Italia menangis ketika tembakan Roberto Baggio terbang ke langit.



Penalti Pertama Italia: FRANCO BARESI 
Secara mengejutkan ia ditempatkan sebagai penendang pertama. Bola dipegang dengan tangan kanannya, seolah ia melupakan cedera lututnya yang beberapa menit sebelumnya membuat ia meringis. Baresi ambil ancang-ancang. Gelagatnya tidak begitu meyakinkan. Ia melakukan tembakan dengan kaki kanan. Benar saja. Bola melejit jauh di atas gawang. Baresi menggigit bibir, menahan tangis. Kiper Taffarel belum sampai menjatuhkan badan. Italia 0, Brasil 0.

Penalti Pertama Brasil: MARCIO SANTOS 
Kiper Pagliuca dengan brilyan membaca gerakan kaki Santos. Bola setinggi lutut yang menuju ke kanan gawang dibloknya sambil terbang. Italia 0, Brasil 0.

Penalti Kedua Italia: DEMETRIO ALBERTINI 
Dengan beban yang dipendam, ia melakukan eksekusi dengan kaki kanan, dan menempatkan bola ke arah kanan Taffarel yang bergerak ke kiri gawang. Gol! Italia 1, Brasil 0.

Penalti Kedua Brasil: ROMARIO FARIA 
Ia memperdaya kiper dengan menghentikan langkah larinya sekejap, sebelum menyepak bola ke sudut kanan gawang. Bola sempat melintir karena menghantam pinggir tiang, sementara Pagliuca salah antisipasi. Masuk! Ah, rakyat Brasil pasti menahan desah khawatir tapi senang kemudian. Italia 1, Brasil 1.

Penalti Ketiga Italia: ALBERIGO EVANI 
Kaki kiri gelandang kiri AC Milan ini berhasil membenamkan bola ke jaring. Taffarel terlanjur salah antisipasi, padahal bola itu mengarah ke tengah gawang. Italia 2, Brasil 1.

Penalti Ketiga Brasil: CLAUDIO BRANCO 
Dengan kaki kiri yang merupakan kekuatan utamanya ia tendang bola dengan keras berlawanan arah. Masuk! Pagliuca salah antisipasi, tak berdaya. Italia 2, Brasil 2.

Penalti Keempat Italia: DANIELE MASSARO 
Rupanya penyerang AC Milan ini tak bisa menahan ketegangannya. Kaki kanannya menendang bola yang meluncur lurus agak ke kiri. Dan, Taffarel berhasil membloknya dengan mudah. Rakyat Italia mulai dilanda pilu. Italia 2, Brasil 2.

Penalti Keempat Brasil: CARLOS DUNGA 
Gerakan gelandang Samba yang bermain di Fiorentina ini sulit dibaca. Bola diarahkannya ke kiri gawang. Pagliuca salah posisi. Italia 2, Brasil 3. Kota Roma dirundung ketegangan, sedangkan di Rio dihujani impian besar.

Piala Dunia 1994: Duka Baresi, Massaro, Baggio...
Kepiluan Baggio dalam adu penalti adalah duka Italia.

Penalti Kelima Italia: ROBERTO BAGGIO 
Sambil menahan sakit di paha kanan, entah kenapa dia tetap dipilih pelatih Arrigo Sacchi menjadi eksekutor terakhir Azzurri. Baggio menendang bola dengan kaki kanannya. Taffarel tertipu tidak bergerak, namun bola melayang jauh dan mengangkasa di atas mistar. Italia 2, Brasil 3Kegembiraan meledak di kubu Brasil, kesedihan merebak di kubu Italia. Roma larut dengan duka, Rio dibalut suka. Brasil menang adu penalti dengan skor 3-2, sekaligus merebut titelnya yang keempat di Piala Dunia.

KESAN

UTAMI PURWANINGTYAS, Mahasiswi Unpad, Bandung
"Meski tidak menyaksikan semua partai, tetapi saya selalu menyempatkan diri menyaksikan kesebelasan favorit saya, Jerman. Jarang ada kesebelasan yang dari awal sampai akhir pertandingan tetap tampil ngotot kayak mesin. Buat Brasil dan Romario, saya sampaikan selamat. Walau begitu saya punya pemain pilihan, yang saya anggap terbaik di Piala Dunia yaitu Roberto 'Robby' Baggio.

(foto: blagobloggersports)







Share:

Piala Dunia 1994: Semua Gara-Gara Lechkov

Sebutlah nama Iordanov Lechkov untuk runtuhnya kebesaran Jerman di kaki Bulgaria. Sebab pelatih Dimitar Penev pun tidak ragu-ragu melakukannya. 

Maksudnya jelas. Lechkov tentu dianggap sangat memahami karakter permainan Jerman, dan hal tersebut menjadi kunci untuk menumbangkan Der Panzer. Dan semua itu memang menjadi kenyataan.

"Pengalaman Lechkov bermain di Jerman adalah satu di antara sekian alasan di balik kemenangan kami,"ujar Penev, pelatih yang dijuluki ahli strategi karena kemampuannya membaca permainan lawan. "Sejak pertandingan kualifikasi Piala Dunia mulai berlangsung, kami memang selalu berusaha membina kekompakan dengan pemain-pemain yang bergabung dengan klub-klub luar negeri."
Piala Dunia 1994: Semua Gara-Gara Lechkov
Thomas Helmer terlambat menutup gerakan Iordan Lechkov.
Lechkov, gelandang berkepala botak yang lahir 9 Juli 1967 itu, memang tercatat sebagai pemain SV Hamburg sejak 1992. Ia adalah salah satu bintang di klub Bundesliga itu, sekaligus kesayangan masyarakat setempat. Maka dapat dimengerti bila ada perasaan yang mengganjal di hatinya seusai Bulgaria menghempaskan sang juara bertahan. "Maafkan saya, Hamburg...," ucapnya lirih di hadapan beberapa wartawan Jerman.

Lechkov tentu tidak menjadi bintang hanya karena pemain Bundesliga. Dalam pertandingan itu sendiri, ia tampil amat gemilang. Penuh rasa percaya diri dan tidak kenal menyerah. Ia juga sama sekali tidak kecil hati setelah kesalahan yang dibuatnya mengakibatkan tendangan penalti bagi Jerman di menit ke-49.

Ia justru bangkit, mencari jalan untuk menebus kekeliruarnya. Usahanya tidak sia-sia. Di menit ke-79 ia menerima umpan lambung dari Nasko Sirakov. la pun berebut bola dengan Thomas Haessler, yang 'kebetulan' bertubuh pendek, sehingga memenangkan bola udara. Sundulan kepalanya dari jarak 12 meter tidak dapat diantisipasi kiper Bodo lllgner sehingga bola pun melesak ke gawang Jerman.

Itulah gol yang menentukan kekalahan 1-2 Jerman atas Bulgaria. Gol yang indah, yang membuktikan kelas Lechkov sebagai pemain dunia. Pers Italia langsung mengarahkan perhatian pada pemain yang mengawali kariernya di klub Divisi Satu Bulgaria, Sliven, dalam usia 18 tahun ini.

Esok harinya, foto-foto Lechkov dipasang di halaman pertama hampir seluruh koran terbitan negeri Spaghetti tersebut. Agaknya Lechkov benar-benar terus diperhitun gkan sebagai pemain yang bisa membahayakan tim kebanggaan mereka. Memang, jangan coba-coba memandang enteng Lechkov.




(foto: SI.com)


Share:

Piala Dunia 1994: Data Fakta (4)

Berikut hasil rekaman pertandingan Perempatfinal dan Semifinal, yang meloloskan Brasil dan Italia ke final Piala Dunia 1994.
                      PEREMPATFINAL

SPANYOL 1-2 ITALIA
Waktu: 9 Juli, 23.05 WIB
Tempat: Stadion Foxboro, Boston
Wasit: Sandor Puhl (Hongaria)
Pencetak Gol: Dino Baggio (25), Jose Caminero (59), Roberto Baggio (88)
Kartu Kuning: Abelardo Fernandez, Jose Caminero (Spanyol)
Penonton: 53.644
Pemain Terbaik: Giuseppe Signori (Italia)
SPANYOL: Andoni Zubizarreta, Albert Ferrer, Abelardo Fernandez, Jorge Otero, Rafaet Alkorta, Miguel Angel Nadal, Sergi Barjuan /Julio Salinas (61), Jose Caminero, Luis Enrique Martinez, Juan Andoni Goikoetxea, Jose Maria Bakero/Fernando Hierro (65). 

Pelatih: Javier Clemente
ITALIA: Gianluca Pagliuca, Mauro Tassotti, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini, Antonio Benarrivo, Antonio Conte/Nicola Berti (66), Demetrio Albertini/Giuseppe Signori (46), Dino Baggio, Roberto Donadoni, Roberto Baggio, Daniele Massaro. 

Pelatih: Arrigo Sacchi

BRASIL 3-2 BELANDA
Waktu: 10 Juli, 02.35 WIB
Tempat: Stadion Cotton Bowl, Dallas
Wasit: Rodrigo Badilla (Kosta Rika)
Pencetak Gol: Romario (52), Bebeto (63), Dennis Bergkamp (64), Aaron Winter (77), Branco (81)
Kartu Kuning: Aaron Winter, Jan Wouters (Belanda); Dunga (Brasil)
Penonton: 63.998
Pemain Terbaik: Bebeto (Brasil)
BRASIL: Taffarel, Jorginho, Aldair, Marcio Santos, Branco/Cafu (90), Dunga, Mauro Silva, Mazinho/Rai (81), Zinho, Bebeto, Romario. 

Pelatih: Carlos Alberto Parreira
BELANDA: Ed de Goey, Stan Valckx, Frank Rijkaard/Ronald de Boer (65), Ronald Koeman, Aaron Winter, Jan Wouters, Wim Jonk, Rob Witschge, Marc Overmars, Dennis Bergkamp, Peter van Vossen/Bryan Roy (54). 

Pelatih: Dick Advocaat

JERMAN 1-2 BULGARIA
Waktu: 10 Juli, 23.05 WIB
Tempat: Stadion Giants, New York
Wasit: Jose Torres Codena (Kolombia)
Pencetak Gol: Lothar Matthaeus (49), Hristo Stoichkov (76), Yordan Lechkov (79)
Kartu Kuning: Thomas Helmer, Martin Wagner, Thomas Haessler, Juergen Klinsmann, Rudi Voeller (Jerman), Trifon Ivanov, Hristo Stoichkov, Borislav Mihailov (Bulgaria)
Penonton: 72.416
Pemain Terbaik: Yordan Lechkov (Bulgaria)
JERMAN: Bodo lllgner, Lothar Matthaeus, Juergen Kohler, Thomas Helmer, Thomas Berthold, Thomas Haessler/Andreas Brehme (83), Andy Moeller, Guido Buchwald, Martin Wagner/Thomas Strunz (59), Rudi Voeller, Juergen Klinsmann. Pelatih: Berti Vogts
BULGARIA: Borislav Mihailov, llian Kiryakov, Petar Houbchev, Trifon Ivanov, Tzanko Tzvetanov, Zlatko Yankov, Yordan Lechkov, Krasimir Balakov, Emil Kostadinov/Boncho Genchev (90), Nasko Sirakov, Hristo Stoichkov/Ivailo Yordanov (85). 

Pelatih: Dimitar Penev

SWEDIA 7-6 RUMANIA

Waktu: 11 Juli, 02.35 WIB
Tempat: Stadion Stanford Palo Alto, San Fransisco
Wasit: Philip Don (Inggris)
Pencetak Gol: Tomas Brolin (79), Florin Raducioiu (89,101), Kennet Andersson (115)
Kartu Kuning: Gheorghe Popescu, Tibor Selymess, Basarab Nica Panduru (Rumania); Klas Ingesson, Stefan Schwarz (Swedia)
Kartu Merah: Stefan Schwarz (Swedia)
Penonton: 81.715
Pemain Terbaik: Tomas Brolin (Swedia)
Adu Penalti:
Florin Raducioiu (Rumania) - Gol. 1-0
Hakan Mild (Swedia) - Gagal. 1-0
Gheorghe Hagi (Rumania) - Gol. 2-0
Kennet Andersson (Swedia) - Gol. 2-1
lonut Lupescu (Rumania) - Gol. 3-1
Tomas Brolin (Swedia) - Gol. 3-2
Dan Petrescu (Rumania) - Gagal. 3-2
Klas Ingesson (Swedia) - Gol. 3-3
Ilie Dumitrescu (Rumania) - Gol. 4-3
Roland Nilsson (Swedia) - Gol4-4

-----------------------------------
Adu Penalti Tambahan:
Miodrag Belodedici (Rumania) - Gagal. 4-4
Henrik Larsson (Swedia) - Gol. 4-5
SWEDIA: Thomas Ravelli, Roland Nilsson, Patrik Andersson, Joachim Bjorklund /Pontus Kaamark (84), Roger Ljung, Stefan Schwarz, Klas Ingesson, Hakan Mild, Thomas Brolin, Kennet Andersson, Martin Dahlin/Henrik Larsson (107). 

Pelatih: Tommy Svensson
RUMANIA: Florin Prunea, Dan Petrescu, Daniel Prodan, Miodrag Belodedici, Gheorghe Popescu, Ionut Lupescu, Dorinel Munteanu /Basarab Nica Panduru (84), Gheorghe Hagi, Tibor Selymes, Florin Raducioiu, Ilie Dumitrescu. 

Pelatih: Anghel Iordanescu

                          SEMIFINAL
Piala Dunia 1994: Data Fakta. Italia vs Bulgaria
Emil Kostadinov gagal menghindari jepitan tiga pemain Italia.

ITALIA 2-1 BULGARIA
Waktu: 14 Juli, 03.05 WIB
Tempat: Stadion Giants, New York
Wasit: Joel Quiniou (Prancis)
Pencetak Gol: Roberto Baggio (21, 26), Hristo Stoichkov (44, penalti)
Kartu Kuning: Alessandro Costacurta, Demetrio Albertini (Italia), Emil Kostadinov, Yordan Lechkov, Zlatko Yankov (Bulgaria)
Pemain Terbaik: Roberto Baggio (Italia)
Penonton: 77.094
ITALIA: Gianluca Pagliuca, Roberto Mussi, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini, Antonio Benarrivo, Nicola Berti, Demetrio Albertini, Dino Baggio/Antonio Conte (56), Roberto Donadoni, Roberto Baggio/Giuseppe Signori (71), Pierluigi Casiraghi. 

Pelatih: Arrigo Sacchi
BULGARIA: Borislav Mihailov, llian Kiryakov, Trifon Ivanov, Petar Houbchev, Tzanko Tzvetanov, Zlatko Yankov, Yordan Lechkov, Krasimir Balakov, Nasko Sirakov, Emil Kostadinov/Ivailo Yordanov (72), Hristo Stoichkov/Boncho Genchev (79). 

Pelatih: Dimitar Penev
Piala Dunia 1994: Data Fakta. Brasil vs Swedia
Gol emas Romario Faria yang menaklukkan Tomas Raveli.
BRASIL 1-0 SWEDIA
Waktu: 14 Juli, 06.35 WIB
Tempat: Stadion Rose Bowl Pasadena, Los Angeles
Wasit: Jose Torres Cadena (Kolombia)
Pencetak Gol: Romario Faria (80)
Kartu Kuning: Zinho (Brasil); Roger Ljung, Thomas Brolin (Swedia)
Kartu Merah: Jonas Thern (Swedia)
Penonton: 84.569
Pemain Terbaik: Romario (Brasil)
BRASIL: Claudio Taffarel, Jorginho, Aldair, Marcio Santos, Branco, Dunga, Mauro Silva, Mazinho/Rai, Zinho, Bebeto, Romario. 

Pelatih: Carlos Alberto Parreira
SWEDIA: Thomas Ravelli, Roland Nilsson, Patrik Andersson, Joachim Bjorklund, Roger Ljung, Hakan Mild, Tomas Brolin, Jonas Thern, Klas Ingesson, Martin Dahlin/Stefan Rehn, Kennet Andersson. 

Pelatih: Tommy Svensson



(foto: planet world cup/whoateallthepies)


Share:

Piala Dunia 1994: Eh Tahukah Anda? (5)

Pemain-pemain Spanyol, Italia, Yunani, dan Arab Saudi tidak laku? Mungkin ini hanya sebuah lelucon. Tetapi kenyataannya, tidak ada satu pun anggota tim nasional mereka yang bermain untuk klub-klub luar negeri. Sebaliknya, dari 22 pemain Irlandia, tidak ada satu pun yang merupakan pemain lokal. Sebagian besar bermain di Inggris.

INJURY TIME
Ini istilah untuk waktu tambahan (pengganti waktu yang terbuang untuk merawat pemain yang cedera) di Piala Dunia sekarang kerap terjadi. Ini bisa dimaklumi karena yang jadi acuan adalah stop-watch wasit, bukan pencatat waktu otomatis. Tambahan waktu terlama terjadi ketika Korsel jumpa Bolivia, 24 Juni lalu di Boston. Babak pertama berakhir menit ke-50, dan babak kedua menghabiskan waktu lebih lama lagi: 53 menit. Jadi total waktu tambahan dari wasit Leslie Mottram (Skotlandia) adalah 5+8 = 13 menit! Celakanya yang lebih membuat pertandingan itu terasa lama adalah hasilnya yang seri 0-0.

Piala Dunia 1994: Eh Tahukah Anda?

MATTHAEUS GAGAL CETAK REKOR BARU
Turun dalam pertandingan perempatfinal melawan Bulgaria, Lothar Matthaeus menyamai rekor Uwe Seeler (Jerman), Wladislaw Zmuda (Polandia) dan Diego Maradona (Argentina). Ia kini tercatat sebagai pemain keempat yang bermain dalam 21 pertandingan Piala Dunia. Namun Matthaeus ternyata senasib dengan Maradona yang langkahnya harus terhenti sebelum membukukan angka 22. Kekalahan Jerman dalam pertandingan itu membuat ia harus puas hanya menjadi penyama rekor, bukan pencetak rekor baru. Entah, kalau empat tahun mendatang, jika ia masih tampil.

REKOR-REKOR JERMAN
Apa saja rekor Jerman di Piala Dunia? Banyak. Misalnya sebut saja ini: pernah menjuarainya 3 kali. Kemudian bersama Italia, Jerman tercatat sebagai negara kedua yang paling banyak tampil di arena sangat bergengsi ini (13 kali) setelah Brasil (15 kali). Untuk jumlah pertandingan, sampai hari terakhir Plala Dunia. Jerman dan Brasil akan sama-sama membukukan angka 73. Rekor lain: Jerman adalah finalis paling sering, apa pun hasil yang dicapai negara lain di AS yakni 6 kali.

MASKOT SPANYOL
Valentin Sainz, kepala rombongan tim Piala Dunia Spanyol, selalu membawa-bawa patung burung hantu. Ia percaya benda itu akan membantu Spanyol meraih gelar besar kedua dalam dua tahun terakhir. Burung hantu adalah maskot Spanyol ketika merebut medali emas Olimpiade Barcelona 1992. Lima pemain yang berangkat ke AS adalah veteran Barcelona 1992: Santiago Canizares, Albert Ferrer, Abelardo Fernandez, Josep Guardiola dan Luis Enrique. Sayang, Spanyol tidak berhasil juga. Jangankan untuk meraih gelar juara, mendapat tempat di semifinal pun mereka gagal. Dengan demikian, mereka belum beranjak dari prestasi tertinggi di Piala Dunia: menjadi perempatfinalis. Terakhir mereka dikalahkan Italia 1-2.

BELGIA TIM TERBERSIH
Belgia menjadi kandidat kuat peraih Fair Play Award di Piala Dunia kali ini. Sejauh ini mereka dinilai sebagai tim yang paling bersih dari 24 negara peserta. Penilaian didasarkan pada jumlah kartu kuning dan kartu, merah yang diterima serta tingkah laku seluruh anggota tim, termasuk pelatih dan pemain cadangan. Sekjen FIFA, Sepp Blatter, menyebut Belgia mendapat nilai 35,50. Berada di urutan kedua, Swiss (34,65) dan ketiga, Belanda (34.00).

ANGKA 13 ZAGALO
Mario Lobo Zagalo, pelatih yang membawa Brasil menjuarai Piala Dunia 1970, rupanya mempercayai benar kekuatan angka 13. Tentunya dengan segala cara hal itu dikaitkannya dengan ramalan bahwa Brasil akan berjaya di Piala Dunia kali ini. Ia, misalnya, mengatakan bahwa Estados Unidos, bahasa Portugis untuk menyebut Amerika Serikat, terdiri dari 13 huruf. Demikian juga kata Tetracampeoes, yang berarti juara empat kali.

Kemudian dua angka terakhir dari 1994 bila dijumlahkan akan berjumlah 13. Hal ini sama dengan 1958 (5+8 = 13). saat Brasil untuk pertama kalinya memenangkan Piala Dunia. Dua sponsor tim, Coca-Cola dan Umbro secara total juga memiliki 13 huruf. Bukan itu saja. Bebeto mencetak gol ke-113 di AS ketika Brasil menghempaskan tuan rumah 1-0 pekan lalu. Dan Cafu, yang menjadi pemain cadangan dalam pertandingan tersebut, mengenakan kaos bernomor punggung 13. Ada-ada saja.

BRASIL DAN SWEDIA
Brasil, yang pernah jumpa Swedia di penyisihan grup, dengan skor akhir 1 -1, kembali bertarung di semi-final. Ini unik dan langka. Sepanjang sejarah Jerman (Barat) juga pernah bertemu dua kali dengan Hongaria di Swiss 1954. Pertama di penyisihan grup

Hongaria mengalahkan Jerman 8-3. Tapi di final giliran Jerman mengalahkan Hongaria 3-2. Tahun 1962 di Chile, Brasil kala itu satu grup dengan Cekoslowakia (kini terpecah menjadi Republik Ceko dan Slovakia) di babak penyisihan, dan pertandingannya imbang 0-0. Di final Brasil tanpa ampun menggilas Cekoslowakia 3-1. Kemudian di Spanyol tahun 1982, Italia versus Polandia. Pertama di penyisihan grup, seri 0-0. Dan kedua di semifinal, Italia menang 2-0.

MEREKA KEMBAR?
Ada beberapa pasang pemain yang memiliki raut muka yang hampir sama. Apalagi kalau kita melihat pasangan itu dari kejauhan, atau sekadar dari layar kaca. Kembarkah mereka? Tidak. Pasangan-pasangan itu adalah Hristo Stoichkov dari Bulgaria dan Gheorghe Hagi (Rumania). Kemudian dua pemain Spanyol Julio Salinas dan Jose Caminero. Lalu penyerang Irlandia Tony Cascarino dan gelandang Italia Dino Baggio, dan terakhir Juergen Klinsmann (Jerman) dan Hakan Mild (Swedia). Di antara keempat pasangan itu hanya Klinsmann dan Mild yang memiliki nomor punggung sama: 18.

KAKI, KEPALA, DAN BUNUH DIRI
Jangan berpikiran negatif dulu. Yang dimaksud dari judul di atas adalah tentang gol-gol yang tercipta selama Piala Dunia di Amerika ini. Setelah melangsungkan 50 pertandingan, sebelum final, telah tercipta 137 gol. Perinciannya begini: 67 gol diciptakan dengan kaki kanan, 27 kaki kiri, 22 dengan kepala atau sundulan, 15 lewat penalti, 5 tendangan bebas, dan 1 gol bunuh diri. Untuk satu-satunya gol bunuh diri ini, Anda tentu ingat siapa pelakunya. Dialah Andres Escobar, bek Kolombia, yang akhirnya tewas ditembak oleh mafia kokain yang benci akan nilai-nilai luhur olah raga.

REKOR BARCELONA
Juara Piala Champion 1992 dari Spanyol, FC Barcelona, menempatkan 9 pemainnya di tim negeri matador. Sama seperti Spartak Moskva yang 9 pemainnya membela Rusia di AS 1994. Kedua klub tersebut tercatat sebagai klub-klub yang paling banyak menyumbangkan pemainnya ke tim nasional negara masing-masing. Barcelona juga tercatat sebagai klub yang pemainnya paling banyak malang-melintang di AS 1994. Dengan 9 pemain di tim nasional Spanyol, ditambah Romario da Souza Faria (Brasil), Hristo Stoichkov (Bulgaria) dan Ronald Koeman (Belanda), tidak jarang dari 12 pemain mereka turut berlaga di AS.

MEREKA BICARA FINAL
Winny Kesumasari (Mahasiswi ISIP, Jakarta): "Italia akan memukul Brasil di final dalam pertandingan yang ketat dan seru. Saya rasa faktor luck tetap berada di Roberto Baggio dkk. Itu yang terpenting. Dan meski tanpa Costacurta, pertahanan Italia masih solid. Saat ini permainan tim Italia semakin menunjukkan grafik yang meningkat, sedang Brasil meski mainnya indah kayaknya serangannya monoton. Dari sayap melulu, membosankan."

Perwitasari (Mahasiswi Atmajaya, Jakarta): "Melihat penampilan Roberto Baggio yang semakin gemilang, saya yakin Italia akan tampil sebagai juara dunia untuk keempat kalinya. Pertahanan Italia juga semakin bagus. Untuk itu saya mengacungkan jempol buat Maldini. Dia pantas menggantikan Franco Baresi. Serangan Italia juga semakin bagus. sayangnya Signori jarang dimainkan dari awal. Apalagi kalau Zola diturunkan, wah semakin OK aja. Siapa tahu kejadian tahun 1982 terulang lagi? Kalau dulu Rossi, kini Baggio yang jadi pahlawan. Soal Brasil tak perlu ditakutkan. Brasil selalu kesulitan jika bertemu Italia."



(foto: allbluedaze)





Share:

Piala Dunia 1994: Data Fakta (3)

Berikut rekaman pertandingan bagian ketiga yang meliputi hasil akhir babak kualifikasi grup, klasemen akhir, babak 16 besar, dan jadwal perempatfinal.
IRLANDIA 0-0 NORWEGIA

Grup: E
Waktu: 28 Juni 1994, 23.30 WIB
Tempat: Stadion Giants, New York
Wasit: Jose Torres Cadenas (Kolombia)
Kartu Kuning: Roy Keane, Ray Houghton, Gary Kelly, Goran Soerloth, Erland Johnsen
Penonton: 76.332
IRLANDIA: Pat Bonner; Gary Kelly, Phil Babb, Paul McGrath, Steve Staunton, Jason McAteer, Ray Houghton, Roy Keane, John Sheridan, Andy Townsend/Ronnie Whelan, John Aldridge/David Kelly
NORWEGIA: Erik Thorstvedt; Gunnar Halle/Jan Ivar Jakobsen, Henning Berg, Rune Bratseth, Stig Inge Bjornebye, Erland Johnsen, Oevind Leonhardsen/Lars Bohinen, Erik Mykland, Goran Soerloth, Kjetil Rekdal, Jostein Flo

ITALIA 1-1 MEKSIKO

Grup: E
Waktu: 28 Juni 1994, 23.30 WIB
Tempat: Stadion JFK Memorial, Washington DC
Wasit: Fransisco Lamolina (Argentina)
Pencetak Gol: Daniele Massaro (47), Marcelino Bernal (57)
Kartu Kuning: Joaquin del Qlmo, Luis Garcia, Alberto Garcia Aspe, Demetrio Albertini
Penonton: 53.186
Pemain Terbaik: Daniele Massaro
ITALIA: Luca Marchegiani; Antonio Benarrivo, Alessandro Costacurta, Luigi Apolloni, Paolo Maldini, Nicola Berti, Demetrio Albertini, Dino Baggio/Roberto Donadoni, Guiseppe Signori, Roberto Baggio, Pierluigi Casiraghi/Daniele Massaro
MEKSIKO: Jorge Campos; Claudio Suarez, Raul Perales Ramirez, Ignacio Ambriz, Joaquin del Olmo, Jorge Rodriguez, Marcelino Bernal, Luis Garcia/Juan Chavez, Alberto Garcia Aspe, Luis Alves, Carlos Hermosillo

BRASIL 1-1 SWEDIA

Grup: B
Waktu: 29 Juni 1994, 03.00 WIB
Tempat: Stadion Pontiac Silverdome, Detroit
Wasit: Sandor Puhl (Hongaria)
Pencetak Gol: Kennet Anderson (23), Romario Faria (46)
Kartu Kuning: Hakan Mild, Marcio Santos
Penonton: 77.217
Pemain Terbaik: Jonas Thern
BRASIL: Claudio Taffarel; Jorginho, Leonardo, Aldair, Marcio Santos, Mauro Silva/Mazinho, Zinho, Dunga, Rai/Paulo Sergio, Bebeto, Romario
SWEDIA: Thomas Ravelli; Roland Nilsson, Patrik Andersson, Pontus Kamaark, Roger Ljung, Stefan Schwarz/Hakan Mild, Claes Ingesson, Jonas Thern, Henrik Larsson/Jesper Blomqvist, Tomas Brolin, Kennet Andersson

RUSIA 6-1 KAMERUN

Grup: B
Waktu: 29 Juni 1994, 03.00 WIB
Tempat: Stadion Stanford, San Fransisco
Wasit: Jamal Al-Sharif (Suriah)
Pencetak Gol: Oleg Salenko (15, 40, 45, 72, 75), Dmitry Radchenko (81), Roger Milla (46)
Kartu Kuning: Valeri Karpin, Yuri Nikiforov, Andre Kana-Biyik, Jacques Songo'o
Penonton: 74.914
Pemain Terbaik: Oleg Salenko
RUSIA: Stanislav Cherkassov; Yuri Nikiforov, Vladislav Ternavski, Dmitry Khlestov, Omar Tetradze, Viktor Onopko. Valeri Karpin, Igor Korneyev/Dmitry Radchenko, Illya Tsimbalar, Igor Ledhyakov/Vladimir Beschastnykh, Oleg Salenko
KAMERUN: Jacques Songo'o; Raymond Kalla, Stephen Tataw, Hans Agbo, Victor Ndip Akem, Thomas Libiih, Andre Kana-Biyik, Francois Omam-Biyik, David Embe/Alphones Tchami, Louis Mfede/Roger Milla, Marc-Vivien Foe

Oleg Salenko
Striker Rusia, Oleg Salenko. Lima gol ke gawang Kamerun.
BELANDA 2-1 MAROKO

Grup: F
Waktu: 29 Juni 1994, 23.30 WIB
Tempat: Stadion Citrus Bowl, Orlando
Wasit: Alberto Tejada Noriega (Peru)
Pencetak Gol: Dennis Bergkamp (43), Hassan Nader (47), Bryan Roy (78)
Kartu Kuning : Hassan Nader. Tahar El- Khalej, Abdelmajid Bouyboub, Larbi Hababi, Aziz Samadi; Jan Wouters, Ronald Koeman
Penonton: 60.578
Pemain Terbaik: Dennis Bergkamp
BELANDA: Ed de Goey; Stan Valckx, Ronald Koeman, Frank de Boer, Aron Winter, Wim Jonk, Rob Witschge, Jan Wouters, Marc Overmars/ Gaston Taument (56), Dennis Bergkamp, Peter van Vossen/Bryan Roy (67).
MAROKO: Zakaria Alaoui; Tahar el Khalej, Ismail Triki, Rachid Nekrouz, Abdelkarim el Hadrioui, Rachid Azzouzi/Rachid Daoudi (61), Larbi Hababi, Ahmed Bahja, Hassan Nader, Abdelmajid Bouyboub/Mustapha Hadji (47), Aziz Samadi.

BELGIA 0-1 ARAB SAUDI

Grup: F
Waktu: 29 Juni 1994, 23,30 WIB
Tempat: Stadion JFK Memorial, Washington DC
Wasit: Hellmut Krug (Jerman)
Pencetak Gol: Saeed Owairan (5)
Kartu Kuning: Enzo Scifo, Rudi Smidts, Ahmed Jamiul Madani, Hamza Saeed Falatah
Penonton: 52.959
Pemain Terbaik: Saeed Owairan
BELGIA: Michel Preud'Homme; Dirk Medved, Michel De Wolf, Philippe Albert, Rudi Smidts, Enzo Scifo, Franky Van der Elst, Lorenzo Staelens, Danny Boffin, Marc Degryse/Luc Nilis (23), Marc Wilmots/Josip Weber (53)
ARAB SAUDl: Mohammad al-Deayea; Abdullah Sulaiman, Mohammad al-Kulawi, Ahmed Jamil Madani, Mohammad Abdul-Jawad, Hamza Saleh, Fahad al-Bishi, Talal Jabnn, Majed Abdullah/Khalid al-Muallid (46), Saeed Owairan/Abdullah al-Dossari (61), Hamza Saeed Falatah

NIGERIA 2-0 YUNANI

Grup: D
Waktu: 1 Juli 1994, 06.30 WIB
Tempat: Stadion Foxboro, Boston
Wasit: Leslie Mottram (Skotlandia)
Pencetak Gol: Daniel Amokachie (45), Finidi George (90)
Kartu Kuning: Tasos Mitropoulos, Yannis Kalitzakis, Sunday Oliseh, Stephen Keshi
Penonton: 53.001
NIGERIA: Peter Rufai; Stephen Keshi, Mike Emenalo, Uche Okechukwu, Chidi Nwanu, Samson Siasia, Finidi George/Mutiu Adepoju (83), Sunday Oliseh, Emmanuel Amunike, Daniel Amokachi, Rashidi Yekini/Augustine Okocha (69)
YUNANI: Christos Karkamanis; Alexis Alexiou, Yannis Kalitzakis, Vaios Karayannis, Minas Hantzidis, Panayotis Tslaouhides, Nikos Nioplias, Sawas Kofidis, Tassos Mitropoulos/Nikos Tsiantakis (72), Alexis Alexandris, Nikos Machlas/Vassilis Dimitriades (80)

ARGENTINA 0-2 BULGARIA

Grup: D
Waktu: 1 Juli 1994, 06.30 WIB
Tempat: Stadion Cotton Bowl, Dallas
Wasit: Neji Jouni (Tunisia)
Pencetak Gol: Hristo Stoichkov (61), Nasko Sirakov (90)
Kartu Kuning: Oscar Ruggeri, Leonardo Rodriguez, Gabriel Batistuta, Hristo Stoichkov, Zlatko Yankov, Tzanko Tzvetanov, Trifon Ivanov, Krasimir Balakov
Kartu Merah: Tzanko Tzvetanov
Penonton: 63.998
Pemain Terbaik: Hristo Stoichkov
ARGENTINA: Luis Islas; Jose Chamot, Hernan Diaz, Oscar Ruggeri, Fernando Caceres; Fernando Redondo, Leonardo Rodriguez/Ramon Medina Bello (62), Diego Simeone, Claudio Caniggia/Ariel Ortega (25); Gabriel Batistuta, Abel Balbo
BULGARIA: Borislav Mihailov; Emil Kremenliev, Trifon Ivanov, Tzanko Tzvetanov, Petar Hubchev; Zlatko Yankov, Krasimir Balakov, Yordan Lechkov/Daniel Borimirov (75); Nasko Sirakov, Hristo Stoichkov, Emil Kostadinov/Ilian Kiryakov (73)

KLASEMEN AKHIR (Jumat, 1/7)
Grup A
1. Rumania32015-56
2. Swiss31115-44
3. AS31113-34
4. Kolombia31024-53
Grup B
1. Brasil32106-17
2. Swedia31206-45
3. Rusia31027-63
4. Kamerun30123-111
Grup C
1. Jerman32105-37
2. Spanyol31206-45
3. Korsel30214-52
4. Bolivia30121-41
Grup D
1. Nigeria32016-26
2. Bulgaria32016-36
3. Argentina32016-36
4. Yunani30030-80
Grup E
1. Meksiko31113-34
2. Irlandia31112-24
3. Italia31112-24
4. Norwegia31111-14
Grup F
1. Belanda32014-36
2. Arab Saudi32014-36
3. Belgia32012-16
4. Maroko30032-50

PERDELAPAN-FINAL

JERMAN 3-2 BELGIA

Waktu: 3 Juli 1994, 00.00 WIB
Tempat: Stadlon Soldier Field, Chicago
Wasit: Kurt Roethlisberger (Swiss)
Pencetak Gol: Rudi Voeller (6, 39), Juergen Klinsmann (11), Georges Grun (8). Philippe Albert (90)
Kartu Kuning: Thomas Helmer, Martin Wagner (Jerman); Philippe Albert (Belgia)
Penonton: 66.900
Pemain Terbaik: Rudi Voeller (Jerman)
JERMAN: Bodo lllgner; Lothar Matthaeus/Andreas Brehme (46), Juergen Kohler, Thomas Helmer, Martin Wagner, Thomas Berthold, Thomas Haessler, Guido Buchwald, Matthias Sammer, Rudi Voeller, Juergen Klinsmann/Stefan Kuntz (86)
BELGIA: Michel Preud'homme; Philippe Albert, Michel De Wolf, Rudi Smidts/Danny Boffin (66), Georges Grun, Lorenzo Staelens, Franky Van Der Elst, Enzo Scifo, Marc Emmers, Luc Nilis/Alex Czerniatynski (77), Josip Weber

SPANYOL 3-0 SWISS

Waktu: 3 Juli 1994, 03.30 WIB
Tempat: Stadion RFK Memorial Stadium, Washington
Wasit: Mario Van Der Ende (Belanda)
Pencetak Gol: Fernando Hierro (15), Luis Enrique (74), Aitor Berguiristain (86)
Kartu Kuning: Juan Goikoetxea, Albert Ferrer, Francisco Camarasa, Jorge Otero (Spanyol), Marc Hottiger, Juerg Studer, Nestor Subiat, Marco Pascolo (Swiss)
Penonton: 56.000
Pemain Terbaik: Andoni Zubizaretta (Spanyol)
SPANYOL: Andoni Zubizarreta; Albert Ferrer, Abelardo Fernandez, Francisco Camarasa, Fernando Hierro/Jorge Otero (76), Rafael Alkorta, Juan Goikoetxea/Aitor Beguiristain (61), Miguel Angel Nadal, Sergi Barjuan, Jose-Maria Bakero, Luis Enrique Martinez
SWISS: Marco Pascolo; Marc Hottiger, Alain Geiger, Yvan Quentin /Juerg Studer (58), Dominique Herr, Ciriaco Sforza, Christophe Ohrel/Nestor Subiat (73), Georges Bregy, Thomas Bickel, Adrian Knup, Stephane Chapuisat

SWEDIA 3-1 ARAB SAUDI

Waktu: 4 Juli 1994, 00.00 WIB
Tempat: Stadion Cotton Bowl, Dallas
Wasit: Renato Marsiglia (Brasil)
Pencetak Gol: Martin Dahlin (6), Kennet Anderson (51, 88); Fahd Al-Ghasshiyan (85)
Kartu Kuning: Roger Ljung, Jonas Thern, Roland Nilsson (Swedia), Khalid Al-Muwallid (Arab Saudi)
Penonton: 60.277
Pemain Terbaik: Martin Dahlin (Swedia)
SWEDIA: Thomas Ravelli; Roland Nilsson, Patrik Andersson, Joachim Bjorklund/Pontus Kaamark (55), Roger Ljung, Stefan Schwarz, Klas Ingesson, Jonas Thern/Hakan Mild (70), Kennet Andersson, Martin Dahlin, Tomas Brolin
ARAB SAUDI: Mohammad Al-Deayea; Abdullah Sulaiman, Motiammad Al-Khlawi, Ahmed Jamil Madani, Mohammad Abdul-Jawad/Fahd Al-Ghasshiyan (55), Fuad Anwar Amin, Fahad Al-Bishi/Khalid Al-Muwallid (63), Saeed Owairan, Sami Al-Jaber, Hamzah Saleh, Hamzah Saeed Falatah

ARGENTINA 2-3 RUMANIA

Waktu: 4 Juli 1994, 03.00 WIB
Tempat: Stadion Rose Bowl, Los Angeles
Wasit: Pierluigi Pairetto (Italia)
Pencetak Gol: Illie Dumitrescu (11,18), Gabriel Batistuta (16), Gheoghe Hagi (57), Abel Balbo (75)
Kartu Kuning: Fernando Caceres, Illie Dumitrescu, Oscar Ruggeri, Gheorghe Hagi, Fernando Redondo, Jose Chamot, Tibor Selymes
Penonton: 90.469
Pemain Terbaik: Gheorghe Hagi
ARGENTINA: Luis Islas; Roberto Sensini/Ramon Medina Bello (63), Fernando Caceres, Oscar Ruggeri, Jose Chamot, Jose Basualdo, Diego Simeone, Fernando Redondo, Ariel Ortega, Gabriel Batistuta, Abel Balbo
RUMANIA: Florin Prunea; Dan Petrescu, Gheorghe Popescu, Miodrag Belodedici, Daniel Prodan, Gheorghe Mihali, Ionut Lupescu, Tibor Selymes, Dorinel Munteanu, Ilie Dumitrescu/Corneliu Papura (89), Gheorghe Hagi/Constantin Galca (86)

BELANDA 2-0 IRLANDIA

Waktu: 5 Juli 1994, 23.30 WIB
Tempat: Stadion Citrus Bowl, Orlando
Wasit: Peter Mikkelsen (Denmark)
Pencetak Gol: Dennis Bergkamp (11), Wim Jonk (41)
Kartu Kuning: Ronald Koeman
Penonton: 61.355
Pemain Terbaik: Marc Overmars
BELANDA: Ed de Goey; Ronald Koeman, Stan Valckx, Frank de Boer, Frank Rijkaard, Aaron Winter, Wim Jonk, Rob Witschge/Arthur Numan (80), Marc Overmars, Dennis Bergkamp, Peter van Vossen/Bryan Roy (71)
IRLANDIA: Packie Bonner; Gary Kelly, Paul McGrath, Phil Babb, Terry Phelan, Ray Houghton, Roy Keane, Andy Townsend, John Sheridan, Steve Staunton/Jason McAteer (64), Tommy Coyne/Tony Cascarino (75)

BRASIL 1-0 AS

Waktu: 4 Juli 1994 (5 Juli, 02.30 WIB)
Tempat: Stadion Stanford Palo Alto, San Fransisco
Wasit: Joel Ouiniou (Prancis)
Pencetak Gol: Bebeto (74)
Kartu Kuning: Jorginho, Mazinho, Clavijo, Dooley, Ramos, Caligiuri
Kartu Merah: Leonardo, Clavijo
Penonton: 84.147
Pemain Terbaik: Romario
BRASIL: Taffarel; Jorginho, Aldair, Marcio Santos, Dunga, Leonardo, Mazinho, Mauro Silva, Zinho/Cafu (69), Bebeto, Romario
AS: Tony Meola; Fernando Clavijo, Paul Caligiuri, Marcelo Balboa, Tom Dooley, Alexi Lalas, Mike Sorber, Coby Jones, Tab Ramos/Eric Wynalda (46), Hugo Perez/Roy Wegerle (66), Ernie Stewart

ITALIA 2-1 NIGERIA

Waktu: 6 Juli 1994, 00.05 WIB
Tempat: Stadion Foxboro, Boston
Wasit: Arturo Pablo Brizio Carter (Meksiko)
Pencetak Gol: Emmanuel Amunike (11), Roberto Baggio (89,102)
Kartu Kuning: Michael Emenalo, Mutiu Adepoju, Sunday Oliseh, Chidi Nwanu (Nigeria), Daniele Massaro, Alessandro Costacurta, Guiseppe Signori, Dino Baggio, Paolo Maldini (Italia)
Kartu Merah: Gianfranco Zola (Italia)
Penonton: 54.367
Pemain Terbaik: Roberto Baggio
ITALIA: Luca Marchegiani; Roberto Mussi, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini, Antonio Benarrivo, Nicola Berti/Dino Baggio (46), Demetrio Albertini, Roberto Donadoni, Guiseppe Signori/Gianfranco Zola (64), Daniele Massaro, Roberto Baggio
NIGERIA: Peter Rufai; Augustine Eguavoen, Michael Emenalo, Chidi Nwanu, Uche Okechukwu, Sunday Oliseh, Daniel Amokachie/Mutiu Adepoju (35), Finidi George, Rashidi Yekini, Augustine Okocha, Emmanuel Amunike/Thompson Oliha (58)

BULGARIA 4-2 MEKSIKO (adu penalti)

Waktu: 6 Juli 1994, 03.35 WIB
Tempat: Stadion Giants, New York
Wasit: Jamal Al-Sharif (Suriah)
Pencetak Gol: Hristo Stoitchkov (7), Alberto Garcia Aspe (18)
Gol Adu Penalti: Boncho Genchev, Daniel Borimirov, Yordan Lechkov (Bulgaria), Claudio Suarez (Meksiko)
Kartu Kuning: Claudio Suarez, Luis Garcia, Jesus Ramirez, Alberto Garcia Aspe, Emil Kremenliev, Nasko Sirakov, Ivaylo Iordanov, llian Kiryakov
Kartu Merah: Emil Kremenliev, Luis Garcia
Penonton: 71.030
Pemain Terbaik: Hristo Stoichkov
BULGARIA: Borislav Mihailov; Emil Kremenliev, Petar Hubchev, Ilian Kiryakov, Daniel Borimirov, Yordan Lechkov, Krasimir Balakov, Emil Kostadinov, Nasko Sirakov/Boncho Genchev (104), Ivaylo Iordanov, Hristo Stoichkov
MEKSIKO: Jorge Campos; Claudio Suarez, Juan Ramirez Perales, Jesus Ramon Ramirez, Marcos Ignacio Ambriz, Marcelino Bernal, Alberto Garcia Aspe, Luis Alves, Luis Garcia, Benjamin Galindo, Jorge Rodriguez

01.07.1994: Jerman vs Belgia 3-2 (2-0) - Stadion Soldier Field, Chicago
01.07.1994: Spanyol vs Swiss 3-0 (1-0) - Stadion RFK Washington DC
02.07.1994: Arab Saudi vs Swedia 1-3 (0-1) - Stadion Cotton Bowl, Dallas
02.07.1994: Rumania vs Argentina 3-2 (2-1) - Stadion Rose Bowl, Los Angeles
03.07.1994: Belanda vs Irlandia 2-0 (2-0) - Stadion Citrus Bowl, Orlando
03.07.1994: Brasil vs AS 1-0 (0-0) - Stadion Stanford, San Fransisco
04.07.1994: Nigeria vs Italia 1-2 (0-1, 1-1) - Stadion Foxboro, Boston
04.07.1994: Meksiko vs Bulgaria 2-4 (1-1, 1-1, 1-1) - Giants, New York:

PEREMPATFINAL

08.07.1994: Spanyol vs Italia (Foxboro, Boston)
09.07.1994: Belanda vs Brasil (Cotton Bowl, Dallas)
                   Jerman vs Bulgaria (Giants, New York)
10.07.1994: Swedia vs Rumania (Stanford, San Fransisco)

DAFTAR PENCETAK GOL

6 Gol: Oleg Salenko (Rusia)
5 Gol: Juergen Klinsmann (Jerman)
4 Gol: Gabriel Batistuta (Argentina), Martin Dahlin (Swedia), Hristo Stoichkov (Bulgaria)
3 Gol: Romario Faria (Brasil), Gheorghe Hagi (Rumania), Kennet Andersson (Swedia)
2 Gol: Roberto Baggio (Italia), Florin Raducoiou (Rumania), Andoni Goikoetxea, Jose Luis Caminero (Spanyol), Luis Garcia (Meksiko), Adolfo Valencia (Kolombia), Georges Bregy (Swiss), Hong Myung-bo (Korasl), Fuad Amin (Arab Saudi), Claudio Caniggia (Argentina), Daniel Amokachie (Nigeria), Rudi Voeller (Jerman), Philippe Albert (Belgia), Ilie Dumitrescu (Rumania), Wim Jonk, Dennis Bergkamp (Belanda), Bebeto (Brasil), Daniel Borimirov, Yordan Lechkov (Bulgaria)
1 Gol: Marc Degryse, Georges Grun (Belgia), Eric Wynalda, Ernie Stewart (AS), Julio Salinas, Josep Guardiola, Fernando Hierro, Luis Enrique Martinez, Aitor Beguiristain (Spanyol), Seo Jung-won, Hwang Son-bong (Korsel), Ray Houghton, John Aldridge (Irlandia), Kjetil Rekdal (Norwegia), Roger Ljung, Tomas Brolin (Swedia), David Embe, Francois-Omam Biyik, Roger Milla (Kamerun), Marcio Samos, Rai, (Brasil), Gaston Taument, Bryan Roy (Belanda), Diego Maradona, Abel Balbo (Argentina), Rashidi Yekini, Finidi George, Emmanuel Amunike, Samson Siasia (Nigeria), Adrian Knup, Alain Sutter, Stephane Chapuisat (Swiss), Dino Baggio, Daniele Massaro (Italia), Karl-Heinz Riedle (Jerman), Erwin Sanchez (Bolivia), Dan Petrescu (Rumania), Herman Gaviria, Harold Lozano (Kolombia), Sami Al-Jabber, Saeed Owairan, Fahd Al-Ghassiyan (Arab Saudi), Mohammed Chaouch, Hassan Nader (Maroko), Krassimir Balakov, Boncho Senchev, Nasko Sirakov (Bulgaria), Alberto Garcia Aspe, Claudio Suarez, Marcelino Bernal (Meksiko), Dmitri Radchenko (Rusia)

Gol bunuh diri: Andres Escobar (Kolombia)

Catatan: * Jumlah gol (hingga akhir perdelapanfinal): 122 gol. Jumlah pertandingan: 44. Rata-rata gol: 2,77 ** Piala Dunia 1990 (Jumlah Gol: 115, Jumlah pertandingan: 52. Rata-rata gol: 2,21)



(foto: thenational.ae/the18/espnfc)



Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini